Oleh Ust. Idris Saputra, S.Pd
(Ponpes DH1 Surabaya)
Banyak orang mengira santri hanya datang untuk belajar, menerima ilmu, lalu pulang membawa catatan. Padahal ada sesuatu yang jauh lebih halus, lebih dalam, yang jarang terlihat oleh siapa pun—yaitu hubungan batin seorang santri dengan ustadznya. Di balik rasa hormat, ada keinginan besar agar sang ustadz tetap menjadi sosok penjaga cahaya, bukan pedagang yang sibuk menghitung laba.
Banyak yang tidak menyadari bahwa seorang santri bisa melupakan rumus yang diajarkan, teori yang dipraktikkan, atau materi yang mereka catat. Namun mereka tidak akan pernah lupa bagaimana sang ustadz menuntun, bersikap, dan menjadi uswah. Karena itu, ketika seorang ustadz berubah dari pendakwah yang tulus menjadi pengajar yang transaksional, santri bisa merasakannya lebih kuat daripada siapa pun.
Santri bisa merasakan ketika ilmu diberikan karena tugas, dan ketika ilmu diberikan memang karena cinta. Ilmu yang disampaikan dengan niat dakwah biasanya terasa lebih hidup, lebih membangkitkan semangat, dan lebih mudah menembus hati.
Seorang santri tahu bahwa ustadz juga punya kebutuhan, keluarga, dan kehidupan. Namun ada ketakutan yang jarang mereka ungkapkan: takut jika sang ustadz terlalu jauh masuk ke dunia bisnis hingga kehilangan ruh dakwahnya.
Bagi santri, dunia pendidikan adalah tempat yang sakral. Tempat di mana nilai-nilai disemai, bukan dikomersialkan.
Tempat di mana cahaya Islam diwariskan, bukan diperdagangkan. Jangan biarkan hitungan itu mencuri keikhlasan.
Jangan biarkan dunia pendidikan menjadi ladang untung-rugi, seperti pasar yang bising dan penuh tawar-menawar.
Maka ketika seorang ustadz yang dihormati mulai menjadikannya sebagai ladang bisnis, ada rasa kehilangan yang sulit dijelaskan. Maka marilah tetap menjadi da’i. Menjadi penyeru di jalan Allah.
Tetaplah menjadi penjaga lentera ilmu. Tetaplah mengajar dengan wajah yang sama: penuh ikhlas, penuh ketulusan.
Jangan jadikan ilmu sebagai komoditas, karena bagiku seorang ustadz lebih berharga dari sekadar pedagang kata-kata.
Santri tidak meminta ustadznya miskin. Santri juga tidak menuntut semuanya gratis.
Santri hanya ingin: jangan sampai dunia mengubah niat.
Jangan sampai keuntungan mengalahkan keikhlasan.
Jangan sampai status ‘ustadz’ turun menjadi sekadar ‘bisnisman pendidikan’. Karena santri percaya… bahwa keberkahan ilmu datang dari niat, bukan dari nominal.
Selamat Hari Guru Nasional
